Wednesday, September 2, 2009

Life is fragile

Life is fragile
by: Lint Maresa (facebook)

Gempa berkekuatan 7,3 SR (skala richter) baru saja menghantam Jawa Barat pada hari ini (02/09/09). Gempa berulang yang terjadi sekitar sekitar pkl 15.00-16.00 WIB ini bukan saja terasa sangat dahsyat di Selatan Tasikmalaya yang diindikasikan sebagai pusat gempa, namun juga kota Garut dan Ciamis serta lebih jauh lagi Bandung dan Jakarta.

Kalau berbicara data banyaknya total korban, mungkin dalam waktu dekat akan kita ketahui dari institusi yang legitimate mengeluarkan data, namun kalau berbicara suasana yang terjadi saat gempa tersebut terjadi nampaknya setiap orang menyaksikannya dapat melihat suatu reaksi ketakutan yang luar biasa.

Saya bekerja di sebuah gedung di bilangan Jakarta Selatan dalam sebuah ruangan yang berada di lantai 10. Di gedung itu ada sekitar 30 perusahaan yang berkantor sebagai tenant gedung dengan masing-masing karyawan rata-rata 50 orang. Jika kita anggap 60% dari jumlah karyawan yaitu sebanyak 900 orang berlarian menuju tangga darurat dari masing-masing gedung berlantai 25 itu berduyun-duyun menuju ke bawah dengan lebar tangga 1,2 meter kira-kira seperti apa ya? Kejadian itu benar-benar saya saksikan hari ini.

Jeritan/teriakan dan doa serta nafas yang tidak teratur di tengah hentakan kaki yang terburu-buru telah menjadi pemandangan yang menggugah kesadaran hari ini. Bagi Anda yang sering merasa kuat mungkin tidak masalah, namun coba bayangkan pula hal itu dialami oleh orang-orang yang panik, wanita yang sedang hamil, orang yang obesitas, orang yang sedang kondisi badannya tidak fit dan banyak lagi kemungkinan lain dari orang yang saat lemah diantara kerumunan itu. Satu hal yang kepikir, kalau untuk menyelamatkan diri sendiri saja Anda sudah harus berupaya, bagaimana menyelamatkan orang lain?

Sekedar bayangan, gempa berskala 7,3 SR yang berhasil menggerakkan dan memecahkan 2 kotak marmer lantai persis di lantai depan meja kerja saya. Itu benar-benar telah menakutkan semua orang di gedung itu dan termasuk saya sendiri. Sampai-sampai saya tidak terpikir sama sekali untuk mem-video-kan gerakan marmer yang lepas dari lantai itu. Gerakan itu membuat beberapa detik sebelum turun tangga untuk berada pada kesadaran paling tinggi manusia seperti saya. Kesadaran itu berupa penyerahan diri kepada Sang Pencipta bahwa saya ini bukanlah apa-apa.

Beberapa detik itu membuat seorang anak manusia mampu berucap, "Ya Tuhan, jika hari ini waktunya, saya sudah siap menuju rumahmu". Namun jiwa manusiawinya juga berkata, "Namun kalau bisa Tuhan, selamtakanlah aku dari bencana ini".

Life is so fragile... - Hidup ini memanng begitu rapuh seperti sedang berjalan di atas seutas tali. Jika saja orang yang mengendalikan ujung tali melakukan gerakan, tidak banyak kemungkinan pemain sirkus yang berjalan di atas tali sekalipun tidak akan terjatuh. Jika saja Tuhan berkehendak, tidak akan ada diantara kita yang selamat.

Gempa hari ini telah mengingatkan kita tentang makna kesempatan hidup. Banyak catatan di wall facebook hari ini dengan pesan yang sangat rohani. Itu semua bukan kebetulan, namun itu menandakan bahwa memang setiap anak manusia kahirnya harus kembali ke pamahaman rohani yang dalam dan lebih dalam bahkan dalam kebutuhan jasmasni yang paling tinggipun.

Turut berduka cita kepada saudara2ku yang anggota keluarganya harus pergi menghadap sang Khalik Langit dan Bumi karena gempa pada hari ini. Semoga Tuhan punya rencana terbaik bagi mereka dan memberi kekutan bagi anggota keluarga yang ditinggalkannya. Demikian juga kami ucapkan selamat berjuang kembali menata hal-hal (infrastuktur pribadi) yang harus rusak karena pergeseran lempeng bumi ini.

Selain itu sebagai pesan bagi kita bersama, sekali lagi.. Life is so fragile... hidup kita sebenarnya begitu rapuh. Namun akan selalu kuat dengan bersandarkan kepada Kuasa Tuhan atas sang Pemberi hidup.

No comments:

Post a Comment